Berjalan Perlahan (Gunung Merbabu, Jawa Tengah)

Beberapa hal di dunia ini berhak mendapatkan kesempatan kedua, termasuk pendakian gunung. Bulan Maret, tahun 2015, menjadi kali pertama saya mendaki Gunung Merbabu. Naik Via Jalur Wekas, lalu turun lewat Selo. Kala itu, pendakian yang saya dan beberapa kawan lakukan, terasa berat di karenakan cuaca buruk, kabut yang terus menemani, juga tenda yang kebanjiran akibat hujan sepanjang malam dan kebodohan kami karena tidak membuat bivak.

Ketika tiba di puncak, keadaan tidak lebih baik. Kabut tidak juga pergi. Alhasil, pemandangan Merapi yang legendaries di belakang sana tidak bisa kami abadikan dalam bentuk foto. Dan berhubung saya mendaki bersama rombongan pegawai kantoran, itu berarti kami harus tergesa – gesa naik dan tergesa – gesa turun, di karenakan mereka tidak boleh sampai bolos kerja. Otomatis, perjalanan pulang pun menjadi terburu – buru, tidak bisa di nikmati, dan penuh rasa sakit di kaki. Sudah begitu, sampai di Yogyakarta, kami ketinggalan kereta. Ah, benar – benar sial.

Tiga tahun kemudian, pada bulan Juli 2018, karena  penat setelah terus – terusan berkutat dengan naskah, saya mengajak Eki, kawan saya yang sempat bersama – sama ke Sindoro dan Papandayan, untuk menemani mendaki, gayung bersambut. Karena Aqia juga ingin ikut mendaki dan penasaran dengan merbabu, setelah melihat keindahannya di Instagram, kami sepakat untuk menyambangi gunung itu. rombongan bertambah setelah Gloria, alias Oi, kawan saya yang sempat bersama – sama ke Papandayan juga hendak ikut. Kami ber empat setuju untuk melakukan pendakian di hari kerja dan meluangkan waktu lebih lama di Merbabu, agar tidak terburu – buru.

Pada hari H, pendakian terancam batal karena sepeda motor Eki yang di parkir di depan kedai kopi adik saya, raib di gondola maling. Saya pikir, ya sudahlah, mendaki bisa lain waktu. Tidak enak juga jika memaksa Eki berangkat, atau berangkat tanpa Eki. Tapi, di luar dugaan, ia malah menetapkan pendirian untuk tetap mendaki. Katanya, dari pada stress di kos – kosan memikirkan sepeda motor yang hilang, lebih baik menghilangkan stress di gunung. Oh, ya sudah. Berangkat!

Pukul tujuh malam, bus membawa kami pergi dari Cicaheum Bandung. Kebetulan, bangku bus hanya tersisa untuk dua orang. Terpaksa saya dan Eki harus duduk di lantai, beralaskan busa jok. Untung saja bawa matras. Eh kami malah tidur nyenyak. Kami melesat menuju ke Magelang. Kali ini, alih – alih memakai jalur Wekas, kami memutuskan untuk mencoba jalur Suwanting, yang pernah di tutup, kemudian kembali di buka.

Rencananya, kami akan lintas jalur, dan turun lewat selo. Kami tiba pada dini hari di Magelang, dan langsung di kerumuni oleh para calo dan supir mobil yang menawarkan jasa untuk membawa kami ke jalur pendakian. Akhirnya kami pergi menuju jalur Suwanting dengan menyewa mobil. Udara kian sejuk, seiring dengan matahari yang kian tinggi. Merbabu tampak gagah di depan sana, bersebrangan dengan Merapi.

BACA JUGA : Gunung, Panggung, dan Segala di Antaranya (Bima – Tana Toraja)

Tatkala kami tiba di basecamp Suwanting, tak berlama – lama, kami langsung memesan sarapan, beli air minum untuk di perjalanan, kemudian packing ulang carrier kami. Di kisaran basecamp, hanya tampak beberapa belas pendaki. Membuktikan bahwa jalur ini tidak sepopuler Selo yang biasanya di jejali puluhan bahkan ratusan pendaki.

Jam sepuluh pagi, kami mulai berjalan menolak tawaran tukang ojek dadakan yang bisa membawa kami langsung menuju gerbang Suwanting. Jalanan yang di apit oleh perkebunan berganti menjadi deretan pohon. Cuaca yang panas mendadak berubah setelah kabut turun. Kabut yang menemani perjalanan kami memang membuat landscape tidak terlihat. Tapi, di saat yang sama, kabut sangat berguna untuk melindungi stamina kami dari jahatnya terik matahari siang.

Jam demi jam berlalu. Kian lama, jalur kian menukik, curam, dan berpasir. Bukan hanya energy yang terkuras, tapi juga mental kami. Beberapa kali Aqia hampir terjatuh. Beberapa kali pula, Oi terpeleset. Kabut makin pekat memenuhi udara, sempat memuntahkan rintik air. Saya harap bukan hujan. Jalur ini cukup sulit, jangan sampai bertambah sulit.

Sekitar pukul 3 sore, Aqia yang sudah tidak lagi tahan, menitikan air mata, kesal. Tapi, apa daya? Turun curam, naik pun melelahkan. Saya menyemangatinya untuk tetap berjalan. Hingga, kabut perlahan menghilang, seiring kami yang kian naik. Di ujung horizon, tampak Gunung Sumbing dan SIndoro. Rasa haru tak tertahankan. Aqia kembali bersemangat mendaki.

Kami meneruskan langkah, tatkala mentari senja mengecat cakrawala dengan warna merah muda. Perlahan, malam pun datang. Karena sudah kelelahan, dan berhubung malam hari juga bukan waktu yang baik untuk bernavigasi, kami memutuskan untuk mendirikan tenda di pos air, tepat di bawah pos 3.

Keesokan paginya, setelah sarapan, beres – beres dan mengisi air minum, kami melanjutkan perjalanan. Nah, yang melelahkan dari lintas jalur adalah, kita mesti menggendong carrier hingga puncak gunung. Tapi, bagi kami berempat, memikirkan untuk turun lewat Suwanting akan jauh lebih melelahkan. Jalur curam berpasir yang licin, kini berganti menjadi jalan setapak yang di hiasi sabana. Mentari yang mulai tinggi memamerkan kecantikan pemandangan di sekitar kami.

Rasa lelah akibat panas terik membuat kami kerap duduk dan berteduh du bawah pepohonan. Kami kembali berjalan, hingga tanpa terasa, akhirnya puncak Merbabu tampak di ujung sana. Dari tiga puncak, kami menyambagi dua di antaranya. Triangulasi, dan Kenteng Songo.

Kami memutuskan untuk tidak ke puncak Syarif. Selain karena saya dan Eki sudah pernah, puncak Syarif juga berlawanan arah dengan jalur turun menuju Selo. Seberes bercengkrama, kami melanjutkan perjalanan. Jalur Selo terasa lebih “jinak” jika di pakai untuk berjalan turun. Beberapa pendaki bahkan terlihat berlari – lari bagai ninja. Eki dan Oi pun sama, mereka cekatan melangkah turun. Sementara saya dan Aqia lebih memilih untuk berjalan santai dengan tracking pole kami, menikmati Merapi di kejauhan, berteman langit yang merah muda.

Maghrib telah datang ketika kami tiba di Sabana 2. Tidak seperti dahulu du tahun 2015, dimana saya harus tergesa – gesa turun gunung tanpa sempat menikmati Sabana 2 yang konon katanya sangat indah, kali ini kami memutuskan untuk berkemah di sini. Benar saja, menginap di Sabana 2 adalah keputusan yang takkan pernah saya sesali.

Ketika malam tiba, gemintang dan bima sakti menghiasi angkasa. Melihat hamparan bintang membuat saya semakin yakin bahwa manusia tidak di ciptakan untuk sebatas bekerja lalu mati. Kita merupakan bagian dari alam semesta.

Paginya, kami melawan rasa malas dan rasa dingin, kemudian mendaki ke bukit di ujung sabana. Saya hampir tidak percaya dengan apa yang terhampar di hadapan kami. Mentari terbit dari balik awan, memancarkan kemegahan yang membuat segalanya berwarna emas. Ternyata benar, di gunung, kadang kala, kita tidak tahu lagi batas antara bumi dengan surga. Setelah puas menikmati pemandangan, kami memasak, beres – beres, lalu melanjutkan perjalanan turun.

Bagi beberapa orang, hidup adalah tentang “mengejar”. Mengejar puncak, mengejar dambaan hati, mengejar tiket pulang agar tidak terlambat kerja, mengejar cita – cita, dan mengejar hal – hal lainnya. Tidak ada yang salah dengan itu. tapi saya pribadi memilih untuk menjadi seseorang yang “pelan – pelan”.

Pelan – pelan dalam menggapai cita – cita, pelan – pelan dalam mengerjakan tugas, pelan – pelan dalam berusaha menghalalkan dambaan hati, juga pelan – pelan dalam mendaki. Eits, jangan salah paham. Pelan – pelan bukan berarti malas – malasan. Mengutip kata – kata Abraham Lincoln, “Saya adalah seorang pejalan pelan, tapi saya tidak pernah berjalan mundur.”

Intinya, jika sudah mengerjakan sesuatu, saya tidak akan berhenti di tengah jalan, apa lagi menyerah. Alon – alon asal klakon. Saya yakin, jika kita menikmati prosesnya tanpa terburu – buru, ada banyak hal yang bisa kita lihat dan kita nikmati selama dalam perjalanan.