Gunung, Panggung, dan Segala di Antaranya (Bima – Tana Toraja)

Mengibarkan Sang Saka Merah Putih sepanjang 203 Meter di puncak Gunung Tambora, menjadi hal yang tidak akan pernah saya lupakan. Setelahnya, saya tidak langsung pulang. Karena beberapa hari lagi, saya dan band Kerabat Kerja akan manggung di SMAN 2 Toraja Utara, saya rasa, akan sangat buang – buang waktu jika harus pulang dulu ke Bandung, kemudian ke Makassar, lalu ke Toraja Utara. Jadi, saya memutuskan untuk menetap sejenak di Bima, dan menukmati keindahan alam, sebelum nanti terbang ke Sulawesi.

Kali ini bersama kawan – kawan Gideon yang belum pulang ke Bandung, juga bersama Wira Nagara, dan bersama Aqia, kami di temani oleh kawan – kawan dari Bima. Tentu saja ada Bang Sisi Timur, ada Dae Yandi, dan beberapa kawan lainnya. Kami di bawa ke Uma Lengge, Desa Maria, kecamatan Wawo. Di tempat ini, kita bisa melihat rumah tradisional yang merupakan peninggalan dari nenek moyang suku Mbojo.

Setelahnya, kami menuju ke daerah Sape, lalu ke pelabuhan, dan menyebrangi lautan, dengan menggunakan kapal yang tidak terlalu bersar, tapi cukup cepat. Kami di bawa menuju ke sebuah pantai yang cantik sekali! Orang – orang lokal biasa menyebut pantai ini dengan Toro Mbala. Tapi, orang – orang luar, biasanya lebih mengenal pantai ini dengan Pink Beach (Bukan yang berada di Lombok atau Labuan Bajo yah).

Di sini, kami langsung nyemplung, karena tidak kuat lagi melihat laut yang begitu cantik. Saya dan Bang Sisi Timur berdua – duaan, layaknya orang pacaran. Karena sepertinya, di antara kawan – kawan yang lain, hanya saya yang berminat untuk belajar free dive pada Bang Sisi Timur. Ya, hitung – hitung curi ilmu.

Setelah menikmati keindahan alam, kami kembali di bawa oleh kapal, melihat keindahan senja yang membuat suasana menjadi romantis. Kami lalu di turunkan di bibir Pantai Lariti, dan di sana kami di suguhi di vila sepupunya Dae Yandi dengan makanan yang maha enak. Aduh, jadi merasa sangat beruntung, dan sangat bersyukur, di suguhi kawan – kawan Bima sampai sebegininya. Terima kasih banyak.

Meski ingin menetap lebih lama di Bima, saya dan Aqia harus pergi dengan pesawat, langsung menuju Makassar, untuk bertemu dengan kawan – kawan Kerabat Kerja. Setelah itu, kami melakukan perjalanan darat selama Sembilan Jam, sampai ke Toraja lalu ke Toraja Utara.

Kami pun tiba di malam hari. Esoknya, kami langsung beramah tamah dengan pihak sekolah SMAN 2 Toraja Utara. Lucunya, di sini, pihak dari para guru dan kepala sekolah menyambut kami dengan sangat hangat sekali. Sampai kami kikuk dan tidak tahu harus bersikap seperti apa. Menyenangkan. Saya lalu meminta tolong pada panitia untuk di antarkan ke sebuah rumah. Rumah seorang kawan lama yang menolong saya ketika perjalanan “Arah Langkah” dulu kala.

Setelah tiba, saya mengetuk rumah tersebut, dan keluarlah sahabat saya itu, yaitu Reza. Kami saling tidak percaya bisa bertemu lagi setelah lima tahun berlalu. Apa lagi jarak Toraja Utara dengan Bandung itu sangat jauh sekali. Dan hati saya benar – benar terharu ketika ibunda Reza keluar dari dalam rumah. Beliau lah yang menolong saya dan kedua sahabat saya ketika kami menyusuri Indonesia dengan cara menggembel, lima tahun lalu.

Selepas beramah – tamah, saya memaksa Reza untuk ikut dengan kami. Dan, ia membawa kami ke tempat – tempat istimewa di Toraja. Ke Buntu Burake, setelah itu kami pergi ke Kete Kesu, di mana kita bisa melihat rumah Khas Tana Toraja, yaitu rumah Tongkonan. Dan di Kete Kesu juga terdapat pemakaman dari para leluhur orang – orang Tana Toraja.

Beres berjalan – jalan, karena hari semakin sore, Kerabat Kerja memutuskan untuk kembali ke venue, yaitu di SMAN 2, untuk mensetting alat dan sound, agar manggung nanti malam tidak ada kendala. Dan, waktu acara pun tiba. Saya dan Kerabat Kerja menghibur masyarakat Toraja Utara dengan suguhan lagu kami. Dan melihat orang – orang menyanyikan lagu kami, merupakan kebanggaan tersendiri bagi saya.

Baca Juga : Sabar Hati part 2 (Gunung Tambora, NTB)

Seberes manggung, saya dan Kerabat Kerja kembali ke rumah Reza, dan bertemu dengan keluarga Reza. Di situ, saya merasa senang sekali, berhasil mempertemukan dua dunia yang belum pernah bertemu sebelumnya. Ada Kerabat Kerja dari Bandung, dan keluarga Reza yang berasal dari Rantepao, Toraja Utara. Dan di situ, kehangatan pun terjadi.

Saya dan Kerabat Kerja pamit dari Toraja pada dini hari. Kami menyusuri jalanan panjang selama Sembilan Jam, sampai akhirnya kembali lagi ke Makassar. Dari Makassar, kami terbang menuju Cengkareng. Dari Cengkareng, kami langsung menuju Karawang, untuk manggung. Dan itu benar – benar tidak pulang sama sekali.

Jadi, apa yang bisa di petik dari cerita ini? Jika kawan – kawan menonton jurnal saya yang sebelumnya, yang menceritakan tentang Gunung Tambora, mungkin kalian sadar bahwa sebelum mendaki, saya harus manggung dulu di Jatinangor. Setelahnya, saya terbang menuju Bima, lalu melakukan pendakian di Gunung Tambora, turun gunung, saya ke pantai, dari pantai saya terbang ke Makassar, dari Makassar, manggung lagi di Toraja, dari Toraja, manggung di Karawang.

Nah dengan kegiatan beruntun yang sepadat itu, kira – kira apa yang bisa meminimalisir sebuah kegagalan ? ya, jawabannya adalah “Persiapan”. Kemana pun kita akan pergi, entah ke gunung, atau manggung, (salah satuny) yang terpenting bagi saya adalah persiapan. Bayangkan, di puncak gunung, kita hanya akan menghabiskan kurang dari satu jam. Dan saya pun jarang manggung lebih dari satu jam. Tapi, persiapannya sendiri, bisa memakan waktu berjam – jam, bahkan berhari – hari.

Dari mulai mengatur waktu, budget, mensetting alat, memeriksa lagi kelengkapan, dan lain sebagainya. Jika kita meremehkan hal – hal tersebut, saya yakin kita akan menyulitkan perjalanan kita sendiri. Dan, seperti kata Ralph Waldo Emerson, “yang terpenting itu bukan destinasinya, tapi perjalanan menuju destinasi tersebut.” Jadi, nikmatilah sebuah perjalanan, suka – dukanya, baik – buruknya, jatuh dan bangunnya. Karena perjalanan itu lah yang kelak akan menarik untuk di ceritakan