Gunung Yang Cocok Untuk Pemula? (Gunung Guntur, Jawa Barat)

Pendakian pertama akan membuat memilih antara kapok, atau ketagihan. Sialnya, saya termasuk yang ketagihan. Ajirin adalah kawan saya di dunia music. Dia pemain saxophone yang memiliki pengetahuan luas perihal musik. Di luar itu, kami sempat latihan menyelam bebas. Nah, suatu ketika, seberes latihan menyelam, Ajrin iseng bertanya, kapan saya akan mendaki lagi ? saya bilang, kebetulan, dua hari lagi saya akan mendaki Gunung Guntur.

Balas iseng, saya menawarkan Ajrin ikut. Ia sangat berminat, sekaligus takut, karena belum pernah mendaki sebelumnya. Saya memberanikannya. Saran saya, yang penting olahraga dulu untuk persiapan. Ajrin akhirnya setuju ikut, dengan syarat, ia ingin mengajak keponakannya yang sudah sering mendaki, Fajar.

Begitu seriusnya Ajrin, ia sampai menyempatkan datang ke rumah saya malam – malam untuk belajar cara packing carrier yang sudah dirinya sewa. Saya pun kemudian memberikan dia list barang – barang yang harus dirinya bawa. Akhirnya, pada hari rabu pagi, saya, Fajar, Ajrin, juga Eki dan Boy. Berangkat menuju Garut dengan menggunakan sepeda motor.

Jalanan yang macet cukup membuat kami frustasi. Bagaimana tidak? Kami harus menahan carrier di atas sepeda motor, melawan kendaraan – kendaraan besar yang seolah ingin melahap jalanan untuk diri mereka sendiri. Kami tiba di kaki Gunung Guntur pada siang hari. Tepat ketika mentari sedang tinggi – tingginya. Hari yang panas membuat kami memilih untuk istirahat sejenak, sambil gentian mandi. Ajrin terus bertanya ini itu. Terlihat sekali dirinya sangat tegang dan tidak percaya diri. Aneh juga, melihat Ajrin yang selalu tampil pede di atas panggung, kini seolah ciut. Kami pun menyemangatinya.

Pada pukul dua, selepas registrasi, kami memulai pendakian. Terik siang membuat tubuh cepat letih. Tidak tahan dengan keadaan, setelah beberapa lama berjalan, Ajrin pun memuntahkan isi perutnya. Dan seperti kebanyakan orang yang kelelahan di gunung, tapi merasa tidak enak, kata – kata, “Duluan aja. Takutnya saya malah memperlambat,” keluar dari mulutnya.

Saya menjawab Ajrin “Di gunung, tidak boleh saling meninggalkan. Minimal, harus berdua. Jadi, kalau sampai ada apa – apa, ada satu orang yang bisa mencari bantuan.” Saya pun meminta Ajrin untuk jalan perlahan saja, yang penting stabil. Toh, gunung takkan lari kemana. Di pos 1, kami membayar registrasi. Biayanya cukup murah, tidak seperti tiga tahun lalu, pertama kali saya datang kesini dan diadang pungli.

Ah, Gunung Guntur memang pernah memiliki reputasi yang kurang baik di kalangan pendaki. Retribusi liar dan pencurian barang di tenda menjadi kabar tidak sedap yang santer terdengar. Pemberlakuan tiket resmi seperti ini merupakan langkah baik. Setidaknya, kami tahu, kemana larinya biaya yang di bebankan kepada para pendaki.

Selepas pos 1, jalur pendakian berubah menjadi lebih rindang. Cahaya mentari kini tertahan oleh pepohonan. Semangat kami kembali tumbuh. Apalagi, di tengah jalur, ada aliran air. Ketika Ajrin minum, ia berkata bahwa itu adalah air putih paling enak yang pernah ia rasakan. Ajrin tidak keliru. Air gunung memang tidak tertandingi kesegarannya.

Kami lanjut lagi berjalan. Trek kian curam, dengan pasir menghiasi jalurnya. Setelah beberapa puluh menit mendaki, kami tiba di pos 2, di mana pemandangan kota tampak di kejauhan, dan air terjun seolah menanti kami untuk menikmati kesegarannya. Tanpa perlu di suruh, kami mereguk air sambil mencuci muka. Dahaga dan lelah hilang entah ke mana.

Puas bercengkrama, kami kembali mendaki. Trek berganti bebatuan. Cukup menyulitkan perjalanan. Untungnya, udara kian sejuk, seiring hari yang semakin sore. Di kejauhan, tampak bendera Merah Putih berkibar gagah. Pertanda bahwa pos terakhir sudah dekat. Kami tiba di pos 3, tepat kala magrib. Saya cukup terkesiap dengan rapinya pos ini. Ada base camp yang menjual pernak – pernik, ada musala, juga toilet.

Bayangan pencurian yang sempat menakuti saya, hilang begitu saja. Gunung Guntur kini sudah jauh lebih aman dan nyaman untuk para wisatawan yang hendak berkunjung. Di temani cahaya kota, kami mulai mendirikan tenda. Ajrin yang di sepanjang perjalanan banyak diam, kini kembali bawel. Meski bawel, Ajrin adalah yang paling lamban dalam membantu membangun tenda, tapi paling gesit dalam memasak.

Baca Juga : Tapak Tilas part 2 (Gunung Semeru, Jawa Timur)

Ini tentu saja bukan hal buruk. Toh, setiap orang punya spesialisasi masing – masing. Dengan perut kenyang, kami pun sejenak tidur, sebelum harus kembali bangun pagi – pagi buta. Pukul 3 pagi, kami bersiap muncak. Karena Eki sudah dua kali datang ke Guntur, ia memilih untuk tetap di tenda, melanjutkan tidurnya yang terpotong. Jadi, hanya saya, Boy, Fajar, dan Ajrin saja yang pergi ke atas. Kami pun mulai berjalan.

Trek curam dan berpasir yang kami hadapi mengingatkan saya pada jalur akhir Semeru. Sama – sama menyebalkan, sama – sama mematahkan mental. Dan sudah pasti, dari kami berempat, yang mentalnya paling drop adalah Ajrin. Ia seringkali berhenti, sambil berkata, “Saya udah enggak kuat.” Saya dan kawan – kawan yang lain terus menyemangatinya. Kami pun kembali berjalan mengarungi gelapnya malam. Beberapa menit kemudian, Ajrin lagi – lagi berhenti sambil berkata hal yang sama, “saya udah enggak kuat.” Kami kembali menyemangatinya.

Jadi, bisa di bilang, sepanjang perjalanan, drama “Saya udah enggak kuat” terus berulang. Langit perlahan terbakar. Mentari merangkak naik ke angkasa. Cakrawala yang tadinya hitam, kini bergradasi. Kami terduduk, menikmati karunia Tuhan yang takkan kami temui di kota. Ajrin tidak bisa menyembunyikan rasa takjubnya. Ia membuat video untuk sang istri, bukti bahwa dirinya berada di atas lautan awan.

Tak mau berlama – lama diam, kami pun lanjut mendaki. Trek yang kini sudah di siram mentari membuat mental Ajrin makin drop. Jalur tampak begitu curam. Naik sulit, turun lebih sulit. Sedikit lagi sampai ke puncak, Ajrin berhenti dan berkata, “saya udah enggak kuat.” Karena gemas, saya meminta Ajrin melihat ke arah tenda yang jaraknya sangat jauh di bawah sana. Saya kemudian memintanya melihat ke arah pohon di depan, pohon paling terakhir, penanda bahwa puncak sudah di depan mata.

Saya lalu berkata, “Kalau mau turun, silakan. Yang pasti, jarak kebawah dengan jarak ke atas, lebih dekat ke atas.” Ajrin kemudian lanjut mendaki. Menit demi menit kembali berlalu. Mungkin karena sudah sangat kesal dan cape, Ajrin kembali mengeluh, “saya berhenti di pohon aja, deh. Dari pada saya paksain jalan.” Saya tertawa, lalu menepuk bahunya. “jrin, di mana – mana, orang cape enggak akan banyak ngomong. Saya mendorong kami sampai sejauh ini karena saya percaya, kamu masih kuat.

Cuma pemikiran kamu aja yang enggak pede. Ingat, Jrin. Yang paling sulit di dunia ini adalah mengalahkan pemikiran sendiri.” Ajrin lagi – lagi diam dam kembali berjalan, selangkah demi selangkah. Akhirnya, pukul 7 pagi, kami tiba di puncak Gunung Guntur. Ajrin memang sedikit menyebalkan. Tapi, saya suka caranya membuka pikiran dan mau belajar.

Dari mulai cara packing carrier, sampai ke cara mengatur napas. Ah, saya jadi teringat pertanyaan yang kerap saya dapatkan di dunia maya. “Gunung apa yang cocok untuk pemula?” sampai sekarang, saya tidak punya jawabannya. Karena pada dasarnya, tiap orang memiliki kekuatan fisik dan mental yang berbeda – beda. Kondisi cuaca pun turut mempengaruhi tingkat kesulitan pendakian.

Saya lantas mengingat kembali pendakian pertama ke Semeru pada tahun 2012. Gunung Semeru termasuk gunung yang cukup sulit di daki. Tapi, kenapa saya yang waktu itu sering sakit – sakitan dan bertubuh kurus kering kerontang mampu sampai ke puncaknya? Jawabannya adalah, karena saya di temani rekan pendakian yang mau mengajari dan menyemangati saya.

Jadi, bisa di simpulkan  bahwa rekan pendakian kita turut mempengaruhi proses kita belajar di gunung. Syahdan, pertanyaannya bukan lagi “gunung apa yang cocok untuk pemula?” melainkan “Siapa rekan mendaki yang cocok untuk pemula?” Karena pada akhirnya, di gunung, kekuatan tanpa pengetahuan adalah hal yang sia – sia.