KE JOGYA 16 JAM DALAM KERETA API #5 (End)

sebuah jurnal – Pada artikel KE JOGYA 16 JAM DALAM KERETA API #4, setelah melewati stasiun Sidareja, petugas membagikan konsumsi makanan yang dibeli dari restoran Pringsewu.

Meski dongkol karena terlambat, saya melihat bahwa PT. KAI tetap mengupayakan kenyamanan penumpang. Dua jenis makanan yang dibagikan sepanjang hari itu buat saya cukup untuk membuktikan pelayanan PT. KAI yang berorientasi kepada pelanggan. Setahu saya, sebelum reformasi kereta api, pernah terjadi kecelakaan di lintas utara yang mengakibatkan keterlambatan parah. Saat itu banyak penumpang kelaparan hingga mengamuk karena dibiarkan terkatung-katung berjam-jam tanpa adanya makanan.

(Baca juga: Gunung, Panggung, dan Segala di Antaranya (Bima – Tana Toraja))

Singkat cerita, perjalanan ke Jogja hari itu berakhir pada pukul 15:00 dan disambut dengan hujan deras saat KA Bogowonto mengakhiri perjalanannya di Stasiun Lempuyangan.

Pelajaran setelah 16 jam di atas kereta

Di satu sisi, saya kecewa karena maksud hati datang ke Jogja untuk menghadiri wisuda, eh malah gagal karena insiden yang tidak terduga. Tapi, di sisi lainnya saya turut bersyukur karena alih-alih mengupayakan kereta asal berangkat, PT. KAI tetap memprioritaskan keselamatan penumpang. Seraya jalur yang terimbas banjir diperbaiki sesegera mungkin, penumpang dipersilakan tetap berangkat walaupun harus memutar jauh dan mengalami keterlambatan.

Dan, ada satu hal lain yang turut saya pelajari di sini. Tidak ada yang berharap kereta mengalami terlambat, baik itu penumpang maupun perusahaan. Tapi, ketika keterlambatan karena bencanaterpaksa terjadi, para kru kereta mulai dari masinis, pramugara/pramugari, kondektur, polsuska, juga petugas kebersihan harus bekerja ekstra. Kadang, sebagai penumpang saya jarang melihat dari sisi sebelah sini. Sisi yang saya lihat hanyalah dari sisi pribadi saya sendiri, bahwa kereta terlambat dan itu merugikan saya, titik.

Namun, selama perjalanan yang panjang itu saya belajar untuk melihat dari sisi seberang. Mulai dari tengah malam para petugas kebersihan terus wara-wiri dari kereta ke kereta. Mereka memastikan AC bekerja dengan baik, mengecek kondisi kebersihan kamar mandi, dan juga membawa kantong plastik hitam besar untuk mengambili sampah penumpang satu per satu. Jika sebagai penumpang yang sepanjang perjalanan hanya duduk saja sudah merasa lelah, terlebih lagi mereka yang selama 16 jam itu harus tetap bertugas. Tapi, mereka tetap bisa menjalankan tugasnya dengan senyum tersungging di wajah. Dua jempol untuk mereka!

Pada intinya, tidak ada yang ingin bencana terjadi. Tapi, melalui bencana, manusia jadi belajar. PT. KAI berupaya untuk memperbaiki rel agar tidak mudah terendam banjir. Para petugas kereta belajar untuk tetap memberikan pelayanan prima. Dan, para penumpang pun belajar untuk memaklumi keadaan.

Nah, demikian kejadian selama perjalananku menuju Kota Yogyakarta yang memakan waktu paling lama. Sungguh di luar rencana awal yang bermaksud ingin menghadiri acara wisuda.