Ketidak Terdugaan (Gunung Cikuray, Jawa Barat)

Pada suatu pagi yang cerah, saya, bersama dengan kawan – kawan yang berasal dari bermacam – macam latar, berangkat ke arah Gunung Cikuray. Ada Ajrin dan Fajar, duo seru yang pernah mendaki bareng saya ke Gunung Guntur. Ada Iqbal, ada Vega, ada Abiziar, ada Barkah, juga ada Irfan. Kami, berboncengan dengan sepeda motor, menyusuri jalan panjang dari Bandung, menuju kota Garut, hingga tiba di rumah kawan Iqbal yang bernama Azam.

Rencananya, kami akan menitip sepeda motor di rumah Azam. Rencananya juga, Azam akan ikut mendaki. Setelah memarkir sepeda motor, dari rumah Azam, kami melanjutkan perjalanan dengan menggunakan mobil sewaan. Kami pun bergerak lamban dengan mobil bak pengangkut pasir. Langit yang terik, perlahan berubah mendung, seiring dengan nahasnya nasib kami yang di minta turun dari mobil bak oleh para penjaga pos masuk Gunung Cikuray.

Kata mereka, sudah ada mobil bak khusus dari pihak pengelola Cikuray yang bisa kami sewa. Dengan begitu, kami tidak boleh menggunakan mobil dari luar. Kenapa saya bilang nahas? Ya, karena hal ini, jadinya, kami harus dua kali membayar mobil. Kami pun meneruskan perjalanan dengan mobil bak yang sudah di sediakan oleh pihak pengelola. Melewati jalanan terjal dan berbatu, beberapa kali kami mesti turun agar mobil bisa melampaui jalur yang terlalu menukik.

Setelah beberapa puluh menit melakukan ritual turn naik bak mobil, kami akhirnya tiba di sebuah tempat bernama Pemancar. Tempat inilah yang akan menjadi titik nol pendakian. Dari sini, sepeda motor atau mobil sudah tidak boleh mengantar.

Geledek bersahutan di udara. Langit makin hitam. Pertanda bahawa kami harus siap dengan kondisi pendakian di bawah hujan. Dan benar saja, setelah berjalan bebrapa puluh meter menuju pos 1, hujan mendadak turun dengan derasnya. Kami pun memakai jas hujan sebelum kembali berjalan. Tapi, menyebalkannya, hujan seketika pergi. Tak lama setelah kami melepaskan jas hujan, hujan kembali mengguyur. Ah, ada – ada saja.

Nah, karena ini merupakan pendakian kedua Ajrin, tidak mengherankan jika kami mesti mengimbangi langkahnya yang terbilang “santai”. Tidak mengapa. Lagi pula, toh pendakian bukan tentang kejar – kejaran. Puncak gunung takkan pindah ke mana – mana, bukan? Musabab kami pun sebetulnya terlambat memulai pendakian (karena kami baru naik menjelang siang) estimasi tiba di Pos 7, sekaligus pos terakhir tempat kami akan mendirikan tenda, sepertinya takkan tercapai.

Bagaimana tidak? Hari sudah gelap, dan kami masih ada di pos 4. Melihat kondisi Ajrin yang mentalnya sudah terserang pun, rasa – rasanya, tidak akan benar jika kami memaksakan. Ya sudah, mau tidak mau, kami harus mencari pos paling memungkinkan untuk mendirikan tenda, biar pun masih jauh dari puncak Cikuray. Walau, kami sadari, tidak mendirikan tenda di Pos 7, akan mengundang masalah yang kemungkinan besar harus kami hadapi, serangan babi.

Ya, Cikuray memang terkenal dengan babi raksasanya yang bernama Bagas, yang kerap menyerang tenda para pendaki demi makanan. Belajar dari serangan babi yang pernah saya alami di Gunung Sindoro, kami mesti ekstra hati – hati. Pendakian ketika gelap, dengan trek yang licin akibat sisa hujan, bukanlah hal yang menyenangkan. Apalagi, kontur Cikuray mirip tangga, sekaligus minim bonus. Sungguh membuat pegal kaki.

Baca Juga : Manusia dan Alam (Gunung Kerinci, Jambi)

Setelah melangkah penuh kekhawatiran, saya akhirnya tiba di Pos 6, tempat kami dengan terpaksa harus berkemah. Seberes minum kopi, kami pun mulai membangun tenda. Setelahnya, kawan – kawan yang lain mulai memasak. Karena saya merasa sangat lelah, saya pun memutuskan untuk tidak makan malam dan langsung masuk ke dalam sleeping bag. Sebelum tidur, saya mengingatkan yang lain untuk menggantuk makanan di tempat tinggi, agar tidak kena serangan babi.

Angin ribut menemani tidur kami. Saya tidak bisa tertidur pulas dan mesti beberapa kali terbangun. Kawan – kawan yang lain pun bernasib sama. Penyebabnya tentu karena suara angin ribut, juga karena suara langkah kaki. Saya yakin betul, di luar sana ada babi yang berkeliaran. Dan kami hanya bisa berdoa, semoga saja tenda ini tidak rubuh karena di serang angin kencang, apalagi karena di seruduk.

Ketika kami keluar dari tenda, tampak ikatan plastik makanan yang di gantung diatas gubuk di sebelah tenda, sudah hancur berantakan. Padahal kawan – kawan menggantungnya di tempat yang tinggi, tapi sang babi masih bisa naik dan meraih plastik tersebut. Dapat terbayangkan betapa besarnya babi yang semalam mengobrak abrik stok makanan dan peralatan memasak kami. Alhasil, beberapa nesting (termasuk nesting milik saya) suplai makan, dan air hilang entah kemana, seiring dengan plastik makanan yang tergantung sudah terkoyak.

Gemas, kesal, lapar, kami rasakan. Apalagi saya yang semalam skip makan malam. Untung saja masih ada sisa mie di dalam carrier kami. Ah, ya sudah lah, mi pun jadi. Seberes sarapan, kami memulai kembali pendakian.

Karena tidak perlu menggendong carrier, langkah kami terasa ringan. Perjalanan menuju Pos 7 pun tidak memakan waktu lama. Di pos 7, kami sejenak foto – foto. Ya, mumpung kabutnya sedang bagus. Estetis, kalau kata anak sekarang. Sehabis memotret, kami akhirnya memuncak. Bisa di tebak karena hari yang sudah terlalu siang, kami tidak mendapatkan pemandangan apa pun selain kabut tebal yang menghiasi ujung tebing. Ah, ya sudah lah.

Tidak perlu berharap lebih di musim hujan begini. Mencapai puncak Cikuray pun sudah membuat saya bersyukur. Tiba – tiba, Ajrin mengeluarkan selembar amplop dan meminta saya merekamnya. Dasar, Ajrin sialan. Jadi saya menitikkan air mata.

Salah satu hal yang seru, sekaligus menegangkan, dari sebuah perjalanan adalah, laksana hidup, kita tidak pernah tau apa yang akan kita hadapi, sematang apapun perencanaan yang sudah kita buat. Pendakian malam, angin kencang, di serang babi, atau bahkan Ajrin yang biasanya berkelakar tiba – tiba menjadi melankolis, adalah contoh betapa sebuah perjalanan akan selalu memberi kejutannya sendiri.

Eits, tapi, bukan berarti kita tidak perlu mempersiapkan rencana. Justru, ketidak tergantungan di alam terbuka merupakan bukti betapa kita perlu membuat perencanaan. Supaya, jika terjadi apa – apa di jalan, kita tahu bagaimana caranya berimprovisasi. Semoga di dalam sebuah ketidak terdugaan,  kita dapat di pertemukan. Semoga dalam sebuah perjalanan, dapat terjalin persahabatan.