Langkah Pertama (Gunung Gede, Jawa Barat)

Selalu ada langkah pertama untuk sesuatu yang baru. Pertanyaannya, apakah kita mau memulai atau tidak? Karena, langkah pertama adalah yang tersulit. Pada bulan Ramadhan kali ini, saya, bersama beberapa kawan, termasuk Eki dan Ajrin, memutuskan untuk mendaki gunung. Padahal, saya sudah menahan diri sekuat mungkin untuk tidak muncak mendekati hari pernikahan. Apalagi, ini bulan puasa. Tapi, apa daya? Saya belum tahu caranya berhenti jatuh cinta pada gunung.

Ya sudah, kami naik bus dari Bandung, menuju Cianjur. Bodohnya, tempat seharusnya kami turun terlewat, karena kami semua ketiduran. Kami pun berhenti di Jebrod, sedikit lebih jauh dari gunung yang akan kami daki kali ini, Gunung Gede. Oh ya, karena di pendakian kali ini Ajrin kembali ikut, saya bertanya kepadanya, apakah dia mempersiapkan kejutan lagi untuk puncak Gunung Gede seperti waktu di Gunung Cikuray dulu? Bukan apa – apa. Saya mesti jaga – jaga, takutnya menitikan air mata lagi seperti waktu itu. Kan malu.

Tapi, Ajrin merahasiakannya. Kami lantas melanjutkan perjalanan dengan mencarter angkutan umum. Eki menegaskan pada sang supir, agar kami di turunkan di basecamp Gunung Putri, karena rencananya kami akan mendaki dari jalur Gunung Putri. Supir A pun mengiyakan. Kami lalu melaju, sejenak berenti untuk membeli persediaan makanan, kemudian lanjut lagi hingga tiba di sebuah perumahan nan sepi. Disini, kami ganti mobil dan ganti supir, karena angkutan umum takkan kuat di jalan tanjakan.

Kami sih setuju – setuju saja, meski tetap menjaga kewaspadaan. Mobil pun mulai menggerus jalanan berbatu. Setelah tiba di kebun teh, kami terpaksa berhenti karena jalan sedang dalam perbaikan. Syahdan, mobil tidak bisa lewat. Karena bingung, Eki pun menelpon sang kawan yang memang warga lokal, bertanya soal perbaikan jalan. Kata kawan Eki, seharusnya tidak ada perbaikan di jalur Gunung Putri. Ketika Eki menjelaskan detail kejadian, sang kawan menjelaskan bahwa kami salah jalan. Melewati kebun teh bukan jalur menuju Gunung Putri.

Supir B yang mencuri dengar, kemudian menyahut bahwa kalo mau ke Gunung Putri bukan lewat sini. Kami pun sontak kesal pada supir A yang ternyata salah paham dari awal. Otomatis, kami harus kembali ke bawah dan melakukan perjalanan panjang menuju Gunung Putri. Ketika sudah keluar dari jalur berbatu dan berada di jalan besar, supir B menghentikan mobil, lalu meminta uang lebih untuk beli bensin, karena kami semua sudah salah jalur. Kami pun adu mulut. Grup kami tidak mau di salahkan, musabab sedari awal, supir A lah yang salah dengar.

Setelah negosiasi, akhirnya kami memutuskan untuk menambah dana, tapi tidak sebesar yang Supir B mau. Benar – benar buang – buang waktu dan tenaga. Menjelang tengah malam, kami tiba di basecamp bernama Zam – Zam. Disini kami menumpang berbaring sejenak, untuk kemudian makan sahur. Setelah santap sahur, kami janjian berangkat pagi, agar di jalur pendakian tidak perlu berlama – lama tersengat mentari siang yang akan menyulitkan ibadah puasa. Tapi, berangkat pagi hanyalah wacana. Kami semua ketiduran.

Setelah packing dan bersiap – siap, kami memulai pendakian pada pukul 11 menjelang siang. Saya tentu pernah beberapa kali mendaki di bulan Ramadhan, tapi biasanya memilih untuk berjalan seberes maghrib. Ini berarti kali pertama saya mendaki saat berpuasa. Semoga saja, tidak ada halangan berarti. Alam semesta seolah mendukung. Cuaca yang tadinya cerah perlahan mendung. Hal tersebut tentu saja membuat langkah kami terasa lebih ringan. Angin sepoi sesekali menyentuh kulit, menjadikan tubuh tak cepat lelah. Kami terus berjalan menuju pintu rimba.

Pos demi pos pun berhasil di lalui. Hingga di satu titik, hujan mulai membasahi bumi. Karena sedang malas memakai jas hujan, di pendakian kali ini, saya membawa payung. Ternyata mendaki sembari payungan, menyenangkan juga. Tapi, jangan di tiru ya. Bukan hal baik. Akhirnya waktu berbuka puasa tiba. Saya pun meneguk air minum. Jujur saja, ini pertama kalinya air putih terasa begitu nikmat melewati tenggorokan. Mungkin benar, untuk merasakan indahnya kesederhanaan, kita harus lebih dulu merasakan kepahitan. Untungnya, Cuma mulut saja yang terasa pahit.

Baca Juga : Tempat Paling Berkesan (Dieng, Jawa Tengah)

Kendati belum tiba di pos 4, kami memutuskan untuk membuka perbekalan dan berbuka puasa di jalur saja. Apalagi, beberapa kawan, terutama Ajrin, tampak cukup kelelahan. Kami pun mulai memasak mie dan makan bersama. Benar – benar suasana yang hangat di gunung yang dingin. Takut kemalaman, kami kembali berjalan. Kondisi beberapa kawan kian lelah. Karena tidak tega, saya memutuskan untuk membuat tenda di Pos 4 saja. Setibanya di pos 4, ternyata tidak ada apa – apa. Tidak ada pendaki lain, tidak ada bekas tenda, dan yang terpenting, tidak ada mata air.

Mengetahui bahwa mata air baru ada di pos 5, saya pun bertanya pada kawan – kawan yang lain. Mau berhenti disini, atau lanjut? Dari saya sendiri sih, lebih memilih untuk lanjut, agar kami tidak kesulitan untuk minum dan memasak. Apalagi, perbekalan air botolan yang kami bawa sangat terbatas. Setelah keputusan bulat, kami pun melawan rasa lelah dan kembali berjalan. Kami tiba di pos 5. Tapi, anehnya, tidak ada siapa – siapa. Kami menyelidiki kesana – kemari, takutnya salah ambil belokan. Tapi benar kok, ini pos 5. Ada tulisannya. Lantas kemana orang – orang?

Eki dan Fajar memutuskan untuk menaruh carrier dan meminta kami menunggu sementara mereka mencari tahu. Setelah beberapa belas menit berlalu sunyi, mereka berdua kembali dan berkata bahwa pos yang sebenarnya masih sekitar satu kilometer di depan sana. Kami pun kembali berjalan, menembus temaram malam. Di antara gelap, saya bisa menilik bahwa ini adalah padang sabana. Ketika saya menengadah, hamparan bintang tampak cantik di atas sana. Benar – benar malam yang luar biasa. Kami tiba di dekat mata air, tempat tenda akan di dirikan. Tak berlama – lama melek, karena kelelahan, kami semua jatuh tertidur. Kami lalu bangun dini hari, memasak dan santap sahur, untuk kemudian bersiap mendaki ke puncak Gunung Gede.

Seseorang dari tenda sebelah memberikan kami buah apel, sebagai pencuci mulut untuk penutup sahur. Menyenangkan. Sembari ngobrol, kami membuat kopi. Saya bilang pada Fajar, agar membuat kopi juga untuk tenda sebelah. Supaya akrab. Ketika Fajar memberikan kopi ke tenda sebelah, terdengar sahutan bahwa subuh sudah lewat. Lho! Padahal grup kami masih asyik minum kopi dan merokok. Ketika membuka tenda, ternyata matahari sudah mengintip. Oalah. Waktu berlalu tanpa terasa. Azan pun tidak terdengar. Jadi saja kami tidak puasa hari ini.

Saya dan kawan – kawan lanjut mendaki menuju puncak Gunung Gede tatkala hari sudah terang. Kami berjalan dan terus berjalan. Beberapa puluh menit kemudian, kami tiba di puncak Gunung Gede. Seberes foto – foto, Ajrin kembali meminta di rekam. Baiklah. Kali ini saya sudah siap, takkan menitikan air mata seperti di Cikuray. Ajrin pun mulai berbicara sembari memperlihatkan foto USG. Sialan, lagi – lagi saya terharu. Dalam perjalanan pulang, Ajrin bercerita bahwa ini akan menjadi Gunung Terakhir sebelum anaknya lahir. Sebab, sang istri tidak bisa lagi khawatir mesti di tinggal – tinggal ke gunung seperti ini.

Saya jadi merenung. Membayangkan jika di posisi Ajrin. Apakah Ajrin gugup ketika waktu itu ijab Kabul? Apakah ia kesulitan tatkala memulai sebuah rumah tangga? Apakah istrinya merupakan cinta sejatinya? Apakah dirinya tegang dalam menyambut sang anak yang akan lahir beberapa bulan dari sekarang? Seakan mengerti kegelisahan batin saya, Ajrin tersenyum seraya menepuk pundak. Ia seolah berkata bahwa semua akan baik – baik saja. Saya mengangguk paham.

Dalam hidup ini, akan selalu ada langkah pertama untuk sesuatu yang baru. Pertanyaannya, apakah kita mau memulai atau tidak? Karena langkah pertama adalah yang tersulit. Tapi, sebagai manusia, kita akan belajar seiring langkah demi langkah yang kita ambil. Beberapa pelajaran berbentuk manis, tidak sedikit pula pelajaran yang teramat pahit. Tapi apa pun itu, pelajaran dalam hidup ini, akan membentuk diri kita menjadi manusia yang lebih dewasa.

Kini, saya mesti menempuh jalan menuju sebuah tempat asing bernama “pernikahan”. Jujur saja, bagi saya yang terlalu asyik berkelana, hal tersebut menakutkan. Tapi, hati butuh rumah, dan jiwa butuh tempat untuk merebah. Itulah yang membuat saya berani untuk mengambil langkah pertama menuju pelukannya. Saya yakin, dia adalah jawaban dari doa – doa saya selama ini.