MENARA SUAR LEGOK JAWA

sebuah jurnal – Saat googling di laptop, tidak sengaja saya melihat bangunan menara suar, terbersit ingin melihat dan menaiki langsung. Kucoba cari lokasi bagus dan tidak terlalu jauh untuk saya kunjungi. Banggg, ya Menara Suar Legok Jawa.

Januari 2020, saat Jakarta dikepung banjir hari Rabu, hari Jumatnya saya bingung mau ke mana. Saya kontak Roland yang tinggal di Sidareja, dia malah memotivasi supaya sore itu saya berangkat ke rumahnya. Padahal kala itu saya masih ragu, kalau-kalau Jakarta banjir lagi, bakal susah untuk kembali ke kantor.

Jumat jam empat sore, setelah packing seadanya, saya berangkat ke Terminal Kalideres. Di pojok terminal, bus Gapuraning Rahayu tujuan Sidareja sudah menyala mesinnya. Setengah jam lagi bus berangkat, penumpangnya sudah lumayan banyak. Saya dapat duduk di deretan tengah samping kaca. Sepuluh jam kemudian, jam 3 subuh saya tiba di Sidareja.

Dari Sidareja, menyusuri Laut Selatan 

Karena baru tiba jam 3 pagi, saya kebablasan tidur. Bangun-bangun sudah jam 9 lewat. Padahal rencana awal kalau mau ke Legokjawa, kami harusnya berangkat lebih pagi. Dari Sidareja ke Legok Jawa jaraknya sekitar 80 kilometer via Patimuan, Kalipucang dan Pangandaran. Cuaca di luar juga lumayan mendung.

(Baca juga: SOLO HIKING MENUJU PUNCAK POTENG)

Jam sepuluh kami pun berangkat. Kami punya rencana alternatif jika tujuan utama kami batal. Ke Pantai Pangandaran saja, makan cumi goreng, lalu pulang. Tapi Roland mengeluh. Tiap kali saya ke rumahnya, ritual kami tak lain tak bukan ke Pantai Pangandaran lalu makan cumi.

“Ke Legokjawa aja deh Ar. Masih nyandak waktunya ini. Bosen Pangandaran mulu.”

“Yawes,” saya menjawab sembari melihat ke langit. Semoga cuaca bersahabat.

Sidareja adalah kecamatan hampir perbatasan dengan Kabupaten Banjar. Selepas kecamatan Rawa Apu, terbentang Sungai Citanduy. Sungai inilah yang jadi batas alam pemisah antara provinsi Jawa Tengah dan Jawa Barat. Di sisi timur Citanduy, orang-orang bicara dalam logat Ngapak. Pepaya disebut di sini sebagai kates. Di sisi barat Citanduy, orang-orang bicara dalam bahasa Sunda. Pepaya berubah menjadi gedhang, yang dalam bahasa Jawa malah artinya pisang.

Setelah menyeberangi jembatan Citanduy, kami masuk di Jawa Barat. Jalan menuju Pangandaran beraspal mulus, meliuk-liuk menembus bukit-bukit rimbun di Kalipucang. Sesekali kami papassan dengan bus Budiman, sang raja jalur selatan Jawa Barat. Setibanya di Pangandaran, kami ambil jalan menuju Cijulang. Jalur ini biasanya ramai saat musim liburan oleh wisatawan yang hendak main ke Cukang Taneuh atau Green Canyon.

Dari Green Canyon, perjalanan masih lumayan jauh. Jalurnya lebih sepi. Saat mendekati area mercusuar, pemandangan jadi lebih mengasyikkan. Di tepi jalan aspal terbentang samudera Hindia dengan deburan ombaknya yang saling berkejaran. Sementara di sisi lainnya, area tanah lapang menghampar luas. Tak ada pemandangan seperti ini di Jakarta.

Mercusuar Legok Jawa posisinya ada di sebelah kanan jalan jika kita datang dari Cijulang. Tak ada plang penanda apapun. Yang menandakan kami sampai hanyalah batang menara uar itu sendiri yang dari jauh sudah terlihat.

Tidak ada karcis masuk resmi, tapi untuk naik ke atasnya kami diminta membayar 6 ribu per orang.  Menara suar hanya dijaga oleh beberapa bapak-bapak. Selain kami, pengunjung lainnya hanya sepasang kekasih yang baru saja turun dari atas menara.

Meski terlihat elok dari jauh, naik ke atas menara suar butuh nyali khusus. Bentuk menara yang gendut di bawah tapi kurus di pucuk membuat tangga di tiap tingkatannya berbeda ukuran. Makin ke atas, tangga makin sempit. Tangga yang digunakan pun tangga spiral yang sempit.

Roland agak bergidik. Dia enggan untuk naik, tapi setelah disemangati dia mau naik walau pelan-pelan. Ada 8 tingkatan tangga untuk sampai ke pucuk. Setiap dua tingkatan, kita bisa melipir ke balkon. Di dua tingkatan pertama, tidak ada tantangan berarti. Memasuki tingkatan ke-empat, gemuruh ombak dan terjangan angin seperti suara badai memberikan nuansa mistis. Roland berhenti di tingkatan ke-empat karena kakinya gemetaran.

Saya terus naik sampai ke tingkat ke-enam. Di tingkatan ini jika melihat ke bawah, agak menyeramkan memang. Konstruksi menara tak diragukan kekuatannya, tapi sepinya pengunjung dan suara angin bikin bulu kuduk merinding. Oh ya, saat di bus kemarin, saya sempat mencari informasi seputar mercusuar ini. Jika kita googling nama Legok Jawa, salah satu artikel yang muncul adalah berita tentang seorang PNS yang tewas di pucuk mercusuar. Proses evakuasinya cukup sulit karena tangganya sempit, tetapi tubuh jenazah cukup besar.

Teringat akan info itu, saya memutuskan tidak naik ke tingkatan kedelapan. Pelan-pelan saya menyusul Roland turun.

Pemandangan dari tingkat enam pun sudah tampak mempesona. Sejauh mata memandang adalah Samudera Hindia dengan ombaknya yang ganas itu.

Mendung semakin pekat. Jam sudah hampir pukul 1. Kami buru-buru pulang kembali ke Sidareja. Terjebak hujan badai di kawasan terbuka seperti ini bisa jadi pengalaman menyeramkan, alih-alih menyenangkan.

Tidak terasa sudah banyak momen di Legok Jawa yang diabadikan. Menyenangkan bisa berada di sana, menaiki menaranya dan melihat pemandangan bagus terutama ombak pantainya. Sungguh pengalaman yang luar biasa.