Mendaki Gunung Merapi, Kenali Fakta Uniknya #1

sebuah jurnal – Gunung Merapi, salah satu gunung api aktif di Indonesia yang berada di utara Yogyakarta mempertontonkan kegagahannya seolah  menantang untuk dihampiri oleh pendaki.

Menurut Balai Pengembangan Dan Penyelidikan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), sampai saat ini status Gunung Merapi masih waspada karena berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental bahwa aktivitas vulkanis Gunung Merapi masih cukup tinggi.

Gunung Merapi Zest Yogyakarta

Bersiap mendaki Gunung Merapi dalam waktu dekat, setelah dinyatakan aman kembali? Kalau begitu simak tips mendaki Gunung Merapi yang dirangkum, ditambah fakta-fakta unik dari gunung setinggi 2.930 mdpl itu.

Baca juga: Gunung, Panggung, dan Segala di Antaranya (Bima – Tana Toraja)

Di lingkungan para pendaki dikenal dua gerbang dan basecamp pendakian di wilayah Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM). Di taman yang dikelola oleh UPT Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, terdapat 2 seksi wilayah mendaki Gunung Merapi. Yaitu seksi 1 Sleman dan Magelang, terdiri atas 4 Resor Cangkringan, Turi-Pakem, Sukun, Srumbung. Kemudian seksi 2 meliputi Boyolali dan Klaten, yang mencakup wilayah Resor Kemalang, Kemusuk-Cepogo, dan Selo. Di seksi 2 resor terdapat 2 pintu pendakian: Resor Selo atau New Selo dan Sapuangin.

Pengendali Ekosistem Hutan dan Kepala Resort Kemalang TNGM KLHK Arif Sulfianto menjelaskan, akses pendakian massal Gunung Merapi umumnya melalu Pos New Selo. Ini merupakan pintu pendakian massal, yang dibuka setiap hari.

Prosedurnya, pendaki mendaftar di basecamp Barameru dan meninggalkan kartu identitas seperti kartu tanda penduduk (KTP), membayar tiket masuk TNGM, kas desa, dan parkir. Kemudian petugas jaga pos mengecek perlengkapan pendaki apakah kelengkapan dan bekal sesuai atau belum de­ngan prosedur operasi standar (standard ­operating procedure/SOP).

Prosedur pendakian Selo sedikit berbeda dengan basecamp Sapuangin. Dari segi waktu pendakian, pendaki bisa berangkat ke puncak Merapi kapan saja, pagi, siang, atau malam, dengan pertimbangan di antaranya jarak tempuh lebih pendek (2,4 km), sementara pendaki melalui pintu masuk Sapuangin hanya diizinkan berangkat pagi hari karena jarak tempuh lebih panjang dan lama waktu tempuh (5,5 km).

Kondisi medan lebih berat melalui Sapuangin atau pendaki menyebut dengan istilah Ndeles. Sapuangin kondisi vegetasinya lebih bagus, kalau dibuka 24 jam, kegiatan pendakian dikhawatirkan merusak ekosistem. Kita buat jalur eksklusif. Selo tidak ada batasan waktu, jalur pendek dan ekosistem tidak ada yang khas.

Berlanjut ke Mendaki Gunung Merapi, Kenali Fakta Uniknya #2