Mendaki Gunung Merapi, Kenali Fakta Uniknya #3

sebuah jurnal – Berlanjut dari Mendaki Gunung Merapi, Kenali Fakta Uniknya #2, selain banyak kasus orang yang tersesat, dikarenakan kurangnya pengetahuan topografi daerah Merapi, medannya juga berbatu.

Jalur berbatu dan berdebu

Pendakian yang unik memang dirasakan sejumlah pendaki. Pada umumnya mereka merasakan jalur yang cukup berat, karena ada medan berbatu dan berdebu. Seperti yang dilakukan pendaki asal Karanganyar, Jawa Tengah, Luckman Aziz (25). Baginya mendaki Gunung Merapi memiliki kesulitan tersendiri. Jalan berpasir dan berbatu serta debu menjadi hal yang menantang. “Setelah Merapi meletus pada 2010, trek pendakian berbatu dan berpasir. Trek ini menguras tenaga pastinya. Namun, terbayar setelah sampai puncak. Hal itu membuat para pendaki ingin kembali ke Merapi,” ucapnya.

Sabtu, 15 Juli 2017 adalah hari di mana pendakian itu dimulai. Berangakat pukul 17.00 dari Solo bersama 6 orang saya menuju ke basecamp pendakian Merapi di Selo Boyolali. Memakan waktu 1,5 jam perjalanan dari Solo ke basecame. “Setelah melakukan pendaftaran dan mengecek peralatan yang kita bawa, kita mulai mendaki dari basecamp sekitar jam 7 malam. Kami pun memulai perjalanan dengan tidak tergesa-gesa mengingat perjalanan mendaki yang bisa dibilang cukup lama,” katanya.

Baca juga: Sabar Hati part 2 (Gunung Tambora, NTB)

Baginya, mendaki gunung Merapi bukan perkara mudah. Trek yang terus menanjak tanpa ada trek datar membuat setiap pendaki terkuras habis tenaganya. Apalagi medannya berupa tanah dan pasir serta bebatuan yang tajam, membuat para pendaki wajib memakai peralatan aman terutama sepatu gunung.

Sabar, kunci melalui berbagai rintangan menuju puncak Merapi

Ia berbagi tips mendaki Gunung Merapi berikutnya. Yakni dari pos ke pos ia lalui dengan penuh kesabaran. Menurutnya, Selama perjalanan menuju pos terakhir ini banyak para pendaki yang sepertinya menyerah mencapai puncak dan mendirikan tenda di sepanjang sisi trek pendakian.

Tanjakan terakhir menuju pos Pasar Bubrah adalah tanjakan Geger Boyo. ”Perjalanan menuju pos terkakhir di sini saya dan teman-teman sempat kesulitan dikarenakan trek yang berupa pasir dan berdebu ditambah suhu udara yang sangat dingin serta tenaga yang terkuras habis apalagi kaki yang sudah mengalami keram,” ujarnya.

Namun,  tanpa menyerah ia  bergerak perlahan menuju Pasar Bubrah. Akhirnya tepat pukul 00.00, ia dan rekannya sudah sampai di pos terakhir pendakian gunung Merapi yaitu Pasar Bubrah. ”Di pos terakhir inilah kami istrahat mendirikan tenda sambil menghangatkan badan dan tidur beberapa saat sampai menunggu matahari terbit,” ucapnya.

Semua letih penat dan peliknya medan berbatu terbayar seketika saat sang mentari terbit. Hangat mentari menghapus rasa dingin dari semalam.