Menikmati Pantai Tanjung Pasir

sebuah jurnal – Jakarta, kota besar di Indonesia yang tekenal dengan hiruk pikuknya, kota yang tidak pernah tidur, macet, panas, sampah, sudah menjadi pemandangan sehari-hari. Bergeser ke pesisir, meski terletak Jakarta ada pesisir, namun tak banyak tempat yang bisa dinikmati untuk bersantai dengan pemandangan bagus. Hanya beberapa area saja itupun jika mau akses ke dalamnya butuh biaya mahal.

Tapi… bayangan saya akan pantai di pesisir Jakarta yang buruk sedikit tergerus ketika saya menjelajah desa Tanjung Pasir, kecamatan Teluk Naga, di Kabupaten Tangerang. Meski secara administratif Tanjung Pasir bukan termasuk wilayah DKI Jakarta, tapi secara geografis lokasinya tak jauh. Ia berada di sebelah barat laut Kota Jakarta. Tanjung Pasir juga dikenal sebagai dermaga penyeberangan bagi wisatawan yang hendak melancong ke Pulau Rambut dan Untung Jawa.

Berkendara naik motor dari Kalideres menuju Tanjung Pasir, jalanan yang dilalui rasanya tidak ada indah-indahnya. Kami sempat kebingungan hendak mengambil jalan yang mana ketika melintasi kawasan Bandara Soekarno-Hatta. Selepas bandara, jalanan mengarahkan kami ke tepian utara. Di salah satu sisi jalan, sungai berair keruh membentang. Warga sekitar masih memanfaatkannya untuk mandi dan cuci baju.

Perjalanan melibas jalanan desa di Tangerang sensasinya jauh berbeda dengan perjalanan melintasi desa-desa di Yogyakarta. Suasana kumuh menyergap karena jalanan yang sempit diapit oleh rumah-rumah yang berdiri berhimpitan. Di beberapa sisinya kami mendapati tumpukan sampah yang meluber sampai ke badan jalan.

(Baca juga: PENDAKIAN GUNUNG FUJI RUTE YOSHIDA)

“Dah ini tinggal lurus aja, gak perlu pakai GPS lagi,” tukas Andre. Dalam perjalanan jelajah hari ini, saya mengajak Andre. Dengan pergi berboncengan, Andre bisa menolong saya untuk membuka GPS dan mengarahkan jalan.

Beberapa saat sebelum kami tiba di kawasan pantai, pemandangan yang tadinya penuh rumah warga berubah menjadi kawasan tambak. Di bahu jalan ada beberapa kios yang berjualan kerang hijau.

Selepas gapura selamat datang, kami cukup bingung. Tidak ada papan penanda yang menunjukkan area wisata. Kami sempat terkecoh dengan gerombolan pemotor yang berhenti di depan gang.

Sekitar dua kilometer mengikuti jalan, kami tiba di area wisata. Satu sepeda motor beserta dua penumpangnya dikenakan biaya 20 ribu.

Lapangan parkirnya sangat luas, tetapi gersang. Tak banyak mobil atau pun motor yang datang sore itu.

Panorama Laut Jawa 

Penamaan “Tanjung Pasir” diambil dari daratan berpasir yang menjorok ke laut. Jika mengetikkan nama “Tanjung Pasir” di Google, informasi yang kebanyakan muncul menceritakan keindahan pantainya, demikian juga dengan tulisan ini. Meski kawasan pantainya dapat dikatakan cukup indah, kawasan wisata Tanjung Pasir sangat perlu melakukan pembenahan. Sarana WC umum masih jauh dari kata bagus, dan ketersediaan informasi juga kurang memadai.

Tetapi, jika kita mengalihkan pandangan ke arah lautan lepas, Pantai Tanjung Pasir menawarkan pemandangan yang meneduhkan mata. Dari bibir pantainya kita dapat melihat gugusan pulau di Kepulauan Seribu dengan Pulau Rambut dan Untung Jawa yang lokasinya paling dekat.

Ombak khas Laut Jawa, tidak bergelora seperti halnya laut selatan, berlari-larian menerpa bibir pantai. Menjelang matahari terbenam, Pantai Tanjung Pasir adalah spot yang nyaman. Sayang seribu sayang, saat kami tiba di sana, langit malah mendung.

Seandainya bila ada waktu cobalah berkunjung ke Pantai Tanjung Pasir, pemandangannya tidak kalah menarik, dengan biaya murah juga bisa menikmati sunset indah.