Pengalaman Tur di Perbatasan Korea Utara dan Selatan


sebuah jurnal – Saat mengikuti program belajar musim dingin di Korea Selatan, saya berkesempatan untuk tur ke DMZ. DMZ (Demilitarized Zone) merupakan kawasan perbatasan antara Korea Selatan dan Korea Utara. Mendengar akan mendekati Korea Utara, ada perasaan senang sekaligus tegang. Namun, dibalik ketegangan tersebut, saya yakin kalau tur ini akan menjadi salah satu pengalaman yang tidak akan saya lupakan seumur hidup.

Perjalanan dari Seoul ke kota Paju memakan waktu sekitar 1,5 jam. Tujuan pertama dari tur ini adalah Imjingak Resort. Imjingak merupakan daerah terakhir sebelum masuk ke DMZ dan berjarak hanya 7 km dari garis demarkasi militer. Kawasan ini sudah termasuk civilian restricted zone sehingga kendaraan pribadi dan taksi dilarang masuk. Hanya shuttle bus tertentu yang bisa masuk ke kawasan ini.

Imjingak

Jembatan di belakang Mangbeadan Alter ini adalah Bridge of Freedom

Di Imjingak Resort terdapat beberapa monumen, salah satunya bernama Mangbaedan Alter. Monumen ini terkenal sebagai tempat di mana orang-orang Korea Selatan yang terpisah dari keluarganya di Korea Utara melakukan ritual Tahun Baru dan Chuseok (semacam Thanksgiving di Korea).

Di belakang monumen ini terbentang Bridge of Freedom, jembatan penghubung dua negara saudara yang kini terpisah. Di penghujung Perang Korea, jembatan ini adalah tempat 13.000 orang Korea Selatan yang menjadi tahanan perang diperdagangkan. Karena kondisi DMZ saat itu sangat hancur akibat perang, jembatan ini adalah satu-satunya jalan bagi orang-orang Korea Selatan untuk pulang. Itulah mengapa jembatan ini disebut sebagai jembatan kebebasan.

Bridge of Freedom saat ini sudah dibarikade dengan kawat-kawat besar sehingga tidak ada yang bisa melewatinya lagi. Di kawat-kawat barikade tersebut orang-orang Korea Selatan mengikatkan pita berwarna-warni dengan tulisan yang berisi harapan bersatunya Korea Selatan dan Korea Utara.

Selain itu, Imjingak Resort juga memiliki observatorium yang dilengkapi dengan teropong untuk mengintip Korea Utara. Setiap tahun, banyak acara bertema unifikasi Korea yang diselenggarakan di sini.

Imjingak

Tidak jauh dari monumen Mangbeadan Alter juga terdapat jalur kereta api Gyeongui yang hancur saat Perang Korea tahun 1950

Selesai berkeliling Imjingak Resort, kami melanjutkan perjalanan dengan shuttle bus menuju cek poin pertama. Sebelumnya, pemandu kami sudah meminta kami untuk menyiapkan paspor. Mendekati cek poin tersebut, suasana berubah menjadi tegang. Sesampainya di sana seorang tentara masuk ke bus dan memeriksa paspor kami. Setelah selesai memeriksa semua paspor peserta tur, tentara tersebut keluar bus dan perjalanan dilanjutkan menuju Joint Security Area (JSA) Visitor Center.

Setibanya di sana, kami diarahkan masuk ke sebuah auditorium. Seorang pemandu memberikan kami selembar surat pernyataan. Mengingat area ini adalah area berbahaya, kami diminta untuk menandatangani surat yang menyatakan kami menerima risiko jika terjadi kecelakaan, cedera, atau bahkan kematian.

Waiver form JSA

Surat pernyataan pengunjung JSA

Membaca surat tersebut rasanya tur ini seperti membawa kami mendekati kematian. Sempat ragu untuk menandatangani surat tersebut, tapi akhirnya saya memberanikan diri menerima segala risiko yang akan terjadi. Setelah itu kami melihat presentasi singkat mengenai Perang Korea dan bagaimana PBB dapat menengahi dan meminta kedua belah pihak menandatangani Perjanjian Gencatan Senjata Korea.

Pengunjung JSA akan diberikan tanda pengenal yang menunjukkan kalau mereka adalah tamu dari United Nations Command Military Armistice Commission (UNCMAC). Tanda pengenal ini harus diletakkan di dada sebelah kiri. Selanjutnya kami keluar gedung auditorium lalu naik bus khusus tur JSA, berbeda dengan bus yang kami naiki dari travel agent. Seorang tentara ikut masuk ke dalam bus untuk mengawasi kami. Sebelum berangkat, tentara tersebut memperingatkan untuk tidak merekam atau mengambil gambar jika belum diperbolehkan, tidak membuat gestur tertentu, ataupun menunjuk karena dapat diartikan sebagai kode oleh tentara Korea Utara. Makin menegangkan!

Setibanya di JSA, kami berbaris masuk ke dalam gedung bernama Freedom House. Mengikuti arahan seorang tentara di dalam gedung, kami menaiki tangga yang membawa kami ke sebuah area terbuka. Di sana, terlihat pemandangan gedung biru mirip barak, seperti yang ada di film The Interview. Di sinilah Joint Security Area berada, tempat ditandatanganinya Perjanjian Gencatan Senjata Korea. Area ini merupakan satu-satunya tempat di mana dua kubu bisa saling berhadapan.

(Baca juga: Sepenggal Pengalaman Pertama Naik Pesawat #1)

Panmunjeom JSA

Kalau kalian perhatikan, di antara gedung biru sebelah kiri dan kanan, terdapat garis hitam horizontal. Garis tersebut adalah garis perbatasan antara Korea Selatan dan Korea Utara

Tur berlanjut ke Neutral Nations Supervisory Comission (NNSC) Conference Room (gedung biru di foto-Red). Sebelum masuk, seorang pemandu memberi tahu kalau di dalam ada tentara dari Korea Selatan dan Korea Utara. Kami akan diberi waktu untuk berfoto bersama tentara-tentara tersebut, akan tetapi dilarang menyentuh atau mengajak mereka berbicara.

Kemudian kami pun masuk ke dalam bangunan tersebut. Kalau kamu pernah berkunjung ke Museum Pancasila Sakti (Lubang Buaya), kira-kira perasaannya hampir sama. Ada rasa takut dan ngeri. Namun, kali ini bukan takut akan bangunan tua dengan segala cerita misterinya, melainkan perasaan takut tiba-tiba terjadi serangan dari Korea Utara.

Di dalam Conference Room, pemandu kami menginformasikan peristiwa penandatanganan Perjanjian Gencatan Senjata Korea yang berlangsung di tempat kami berada saat itu. Setelahnya kami diberi waktu tidak sampai 2 menit untuk mengambil video dan gambar.

JSA DMZ

Foto saya bersama tentara Korea Selatan di NNSC Conference Room

Selanjutnya, kami kembali ke dalam bus JSA Tour. Masih diawasi seorang tentara di depan bus, kami mengelilingi kawasan JSA, kemudian bus kami berhenti sejenak di Bridge of No Return. Jembatan ini terbentang melintasi garis demarkasi militer antara kedua negara, akan tetapi sepenuhnya berada di wilayah Korea Utara. Di akhir Perang Korea, para tahanan dibawa ke jembatan ini untuk repatriasi. Mereka diberi pilihan untuk tetap tinggal di Korea Utara atau menyeberangi jembatan tersebut dan kembali ke Korea Selatan. Konsekuensinya, jika sudah memutuskan untuk menyeberang jembatan tersebut, tidak diperbolehkan untuk kembali lagi.

Bridge of No Return

Bridge of No Return, 4 tiang pendek di jembatan tersebut menandai batas antara Korea Selatan dan Korea Utara

Perjalanan hari itu ditutup dengan mengunjungi JSA Visitor Center Gift Shop. Kebanyakan barang yang dijual di sini adalah barang-barang berbau militer. Yang paling menarik perhatian saya adalah mereka menjual bir serta uang Won Korea Utara. Mungkin hanya di sinilah saya bisa melihat uang tersebut, karena berdasarkan pengalaman seorang dosen tamu yang pernah berkunjung ke Korea Utara, wisatawan hanya boleh bertransaksi dengan dolar Amerika.

Suvenir DMZ

Suvenir dari JSA Visitor Center Gift Shop

Selesai membeli suvenir kami kembali ke dalam bus travel agent. Keluar dari area DMZ rasanya saya bisa kembali bernapas lega karena saya sudah menjauh dari wilayah negara paling terisolasi di dunia.

Tip Berkunjung ke DMZ Korea

Tertarik untuk berkunjung ke DMZ juga? Perhatikan tip-tip berikut ini.

  • Untuk dapat masuk ke kawasan DMZ, kamu harus ikut tur agen perjalanan. Tur ini biasanya membutuhkan reservasi 2-5 hari sebelumnya. Kisaran harga tur DMZ adalah 85.000 Won atau sekitar Rp1 juta. Reservasi dari jauh hari, ya, sekalian menyiapkan budget.
  • Jika ingin mengikuti tur ini, pastikan paspormu selalu tersedia.
  • Kamu harus bersedia untuk menggunakan kode berpakaian yang telah ditentukan. Tidak diperkenankan menggunakan celana jeans robek, sandal jepit, atau berambut berantakan. Ini karena tentara Korea Utara sering mengambil gambar wisatawan dengan penampilan tidak rapi. Foto tersebut bisa dijadikan bahan propaganda, untuk menunjukkan kalau negara lain lebih miskin dan tidak lebih baik dari Korea Utara.
  • Tur dapat dihentikan kapan pun jika terjadi ketegangan di kawasan perbatasan.
  • Selalu ikuti peraturan dan ketentuan dari pemandu. Jika ketahuan melanggar – mengambil video di tempat terlarang, misalnya – kamu pasti ketahuan dan kena tegur.