Perjalanan ke Tasikmalaya #1

sebuah jurnal– Sekitar dua tahun silam, saat masih tinggal di derah Bogor saya dan 6 orang teman mengobrol dan merencanakan untuk berlibur beberapa hari ke Tasikmalaya.

Menggunakan sebuah mobil elf yang kebetulan rekan saya Bang Asep mengajak beberapa rekannya, yang biasa mendaki bareng dengan beliau sehingga saat itu kami patungan untuk sewa mobil, bensin, supir dan biaya masuk ke tempat wisata kurang lebih 185 ribu per orang.


(Baca juga: Langkah Pertama (Gunung Gede, Jawa Barat))

Kami memulai keberangkatan pukul 22:00 Wib, sepulang saya bekerja shift. Kami bertemu di Terminal Baranangsiang Bogor. Dengan perlengkapan sederhana, yakni: ransel anti air ukuran 35 liter, berisi 1 stel pakaian, makanan berat dan camilan.

Kemudian menggunakan sepatu tali, celana bahan, kemeja, jacket waterproof dan windproof. Berbekal niat refreshing, kami mencoba menyapa satu sama lain saling bertukar cerita dan membagikan sedikit profil masing-masing.

Terkadang melakukan perjalan dengan beberapa orang asing yang belum kita kenal menjadi sebuah challenge tersendiri bagaimana kita beradaptasi dengan cepat dan berbaur menjadi bagian dari kelompok tersebut.

Saat itu di perjalanan karena cukup larut malam, rata-rata kami mulai tertidur namun sesekali saya merasa bahwa jalanan yang dilalui itu banyak tikungan tajamnya. Terasa mobil meliuk-liuk, untung saja aspalnya mulus.

Kalau siang akan lebih terlihat jelas, bahwa tikungan yang tajam itu selalu ditemui hampir di setiap titik perjalanan. Tujuan utama kami Kawah Gn. Galunggung dan setelah itu Kampung Naga, serta Curug terdekat.

Jalan yang harus kami lalui untuk tiba di Kawah Galunggung cukup jelek, banyak bebatuan namun bisa dilalui dengan mobil. Sampai tiba di sebuah parkiran dan kami harus berjalan kaki menuju ke kawah tersebut, kami sampai di sana subuh.

Namun ada ribuan anak tangga yang menyambut, sehingga saat sampai kawah hari sudah mulai agak siang. Tapi tidak apa, masih sejuk dan indah pemandangannya.

Menaiki banyak anak tangga di pagi hari menjadi kenangan tersendiri, ditemani semilir angin yang menyejukkan. Kebetulan salah satu rekan perjalanan kami ada yang membawa anak kecil usia 3/4 tahun.

Ternyata si anak sangat semangat untuk cepat sampai ke kawah. Rasanya menyenangkan, pagi hari sangatlah ramai ada berbagai makanan dijual disana juga pernak-pernik. Kami menggelar sebuah tikar lalu menyalakan kompor dan memasak beberapa makanan, membuat teh dan kopi.

Makan dan minum bersama sambil menatap ke sekitar, hijau dan menawan. Pukul 10:00 Wib ternyata kami harus menikmati ketidakenakan. Ada angin yang sangat kencang, beberapa tenda yang dibangun warga sekitar untuk berjualan mulai berterbangan.

Bersambung ke Perjalanan ke Tasikmalaya #2