Perjalanan ke Tasikmalaya #2

sebuah jurnal – Saat sedang menikmati makan dan minum, kami merasakan angin bertiup kencang di Perjalanan ke Tasikmalaya #1. Cukup menakutkan, dan akhirnya satu per satu mulai turun, kami masih mencoba diam dan tenang. Hingga akhirnya merasa khawatir dan mencoba untuk turun dengan anak tangga lagi.


Ada satu lokasi yang belum sempat kami jamah, di bagian bawah kawah ada sebuah telaga. Katanya ada anak tangga dan jalan yang tersedia menuju kesana. Tapi kami lewati tempat tersebut karena mulai risau dengan keberadaan angin yang semakin kencang.

Setalah berfoto dibeberapa bagian, kami memutuskan menaiki mobil lagi dan menuju ke sebuah curug. Lupa nama curugnya yang jelas airnya jernih dan cukup deras debitnya.

Di sekitar jalan yang dilalui untuk menuju ke curug banyak monyet yang mengikuti di atas pepohonan. Akan tetapi mereka tidak menggangu sama sekali. Setelah menikmati keindahan dan kesejukan curug.

(Baca juga: Tempat Paling Berkesan (Dieng, Jawa Tengah))

Kami mulai untuk menunaikan ibadah sholat zuhur, setelah itu kembali melanjutkan perjalanan. Kampung Naga menjadi destinasi terakhir kami sebelum meninggalkan Tasikmalaya.

Kampung Naga, seperti sebuah kampung budaya. Dimana kampung tersebut belum terjamah listrik dan peralatan canggih. Pemandangan hijau, hamparan sawah yang tertata rapi dengan sistem terasering.

Tersedia kolam ikan dengan ikan yang cukup besar. Rumah di Kampung Naga masih berupa rumah panggung, ada sebuah kali. Rasanya seperti kembali ke masa-masa beberapa puluh tahun lalu.

Perlengkapan dapur dan perkakas rumahnya masih serba manual dan tradisional. Cara berpakaian para penduduknya pun masih berkebaya dan bersarung. Mereka ramah dan menyambut setiap tamu dengan santun.

Tidak terasa waktu menunjukkan pukul 14:30 Wib saatnya kami bergegas menyambut waktu ashar dan segera berkemas untuk pulang, tanpa lupa membeli beberapa buah tangan.

Kami sampai ke Bogor sekitar pukul 22:00 Wib. Saya sudah ditunggu bapak, di terminal. Alhamdulillah sebuah jurnal perjalanan sederhana sudah pernah saya lalui meski dengan perizinan yang sulit. Anak perempuan, sulit mendapatkan izin pergi jauh.

Orang tua merasa khawatir dan takut si anak tidak bisa menjaga diri dan kehormatan. Wajar itu merupakan bentuk kasih sayang serta penjagaan orangtua.

Untuk para anak gadis, silahkan berpetualang setelah memastikan rekan-rekan sepetualanganmu memiliki tipikal seperti apa dan tetap waspada serta berhati-hati karena rumah tetap tempat teraman.

Tetap berhati-hati dan jaga etika dimanapun kita berada. Perjalanan mengajarkan banyak hal, salah satunya mengenal karakteristik asli seseorang.

Nah itulah pengalaman perjalanan selama ke Tasikmalaya, tempat yang menyenangkan, masih asri, penduduknya ramah. Jika teman-teman ada waktu bisa berkunjung ke sana, terutama ke Kampung Naga.