Sepenggal Pengalaman Pertama Naik Pesawat #1

sebuah jurnal – Pengalaman menaiki burung besi ciptaan manusia, yah mau dibilang norak atau katrok, haha. Semua pernah alami ini, tapi mungkin kalian sudah melupakannya di kala itu.

Dan kali ini saya ingin berbagi pengalaman tentang penerbangan pertama saya, dan mungkin sedikit tips buat kamu yang juga baru mau terbang untuk pertama kalinya, semoga bermanfaat.

Selalu ada kali pertama untuk setiap hal yang kita lakukan

‘Kayak apa sih rasanya naik pesawat?’

Pertanyaan itu baru terjawab saat saya terbang pertama kalinya ke Kualanamu.

Silakan sebut saya ‘ndeso‘ atau ‘katrok‘, tapi pasti ada kali pertama untuk setiap hal yang kita lakukan. Saya gak malu mengakui kalau penerbangan dari bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta ke Kualanamu Medan adalah kali pertama saya menumpangi moda transportasi atas awan ini. Tentu ada rasa canggung, bingung, takut, tapi juga sekaligus perasaan senang dan penasaran yang campur aduk.

(Baca juga: PERJALANAN KE GUNUNG BROMO (Part 2))

Saat saya pertama kali diajak naik gunung, saya mencoba membayangkan apa yang nanti saya lihat di atas sana. Apakah awan benar-benar ada di bawah kaki kita? Apakah pemandangannya seindah yang dilukiskan? Well, semua ekspektasi saya dimentahkan begitu saja. Puncak gunung ternyata tak seindah yang saya bayangkan berdasarkan gambar-gambar dan cerita-cerita, melainkan jauh lebih indah! Saat kita menjajal sendiri pengalaman itu, kita merasakannya dengan seluruh indera kita—merasakan susah payahnya mendaki, dinginnya udara, dan melihat awan berarak di bawah kaki kita—membuatnya menjadi pengalaman yang tak tergantikan.

Gerimis menyambut saya di Bandara Halim pagi itu. Untungnya cerita dari bapak supir taksi membuat suasana tak begitu sendu

Sampai di Stasiun Senen, matahari masih belum menampakkan ronanya. Macak (bahasa Jawa: bergaya/berlagak) ala flashpacker, saya putuskan untuk naik taksi aja menuju Halim, transportasi yang menurut saya paling cepat dan nyaman. Maklum, persiapan saya memang kurang, gak sempat melakukan riset angkutan kota dari Senen menuju Halim. Namanya juga traveling tanpa rencana. Hehehe.

Beruntung, di antara ribuan supir taksi yang beroperasi di Jakarta, saya bertemu supir yang lumayan gaul. Pria berusia 43 tahun yang gak saya tahu namanya ini bercerita banyak hal tentang kehidupannya serta filosofinya tentang makna lelaki yang mungkin akan saya bahas lain kali. Karena ceritanya, perjalanan saya menuju Halim jadi terasa sangat singkat. Inilah secuil pengalaman yang akan kamu dapat saat traveling: berjumpa orang asing dan berbagi cerita.

Bersambung ke Sepenggal Pengalaman Pertama Naik Pesawat #2