Pantai Sedahan, Pesona Yogyakarta #3 (End)

sebuah jurnalPerjalanan dimulai akan tetapi masih gerimis dan tanah berlumpur, akhirnya kaki melepas alas kaki untuk meneruskan perjalanan.

Kemampuan fisik anak parkour yang motonya to be strong to be useful pun diuji di sini. Udah dijelaskan ‘kan kalau kami membawa barang bawaan yang bejibun? Lima buah galon yang isinya masih utuh mesti kami gotong bergantian naik turun bukit. Belum lagi ransel kami masing-masing, tenda, kompor, tabung gas, serta bahan-bahan makanan.

Continue reading “Pantai Sedahan, Pesona Yogyakarta #3 (End)”

Pantai Sedahan, Pesona Yogyakarta #2

sebuah jurnalPerjalanan dari Yogyakarta dengan bekal yang seabrek-abrek, dengan tim penuh semangat pun berangkat. Syahdan, kami pun berangkat dengan sukacita; nyanyi-nyanyi, bercanda, dan sebagainya. Tapi, kegembiraan itu cuma bertahan kurang lebih setengah perjalanan. Aroma solar yang menguar ditambah dengan medan yang berkelok-kelok membuat isi perut kami bergolak. Akhirnya kami memilih diam atau tidur untuk menahan mual.

Continue reading “Pantai Sedahan, Pesona Yogyakarta #2”

Pantai Sedahan, Pesona Yogyakarta #1

sebuah jurnalMenikmati pantai indah? Siapa sih yang tidak ingin. Daerah Yogyakarta rupanya menyimpan keindahan alam yang tersembunyi, bak berlian terpendam. Keindahan pasir putihnya bak kemilau permata. Nah perjalanan kali ini memburu pantai di Yogyakarta, yakni pantai wisata Sedahan. Benar-benar pemandangan yang memanjakan mata, kunikmati bersama teman-teman baikku.

Continue reading “Pantai Sedahan, Pesona Yogyakarta #1”

KE JOGYA 16 JAM DALAM KERETA API #5 (End)

sebuah jurnal – Pada artikel KE JOGYA 16 JAM DALAM KERETA API #4, setelah melewati stasiun Sidareja, petugas membagikan konsumsi makanan yang dibeli dari restoran Pringsewu.

Meski dongkol karena terlambat, saya melihat bahwa PT. KAI tetap mengupayakan kenyamanan penumpang. Dua jenis makanan yang dibagikan sepanjang hari itu buat saya cukup untuk membuktikan pelayanan PT. KAI yang berorientasi kepada pelanggan. Setahu saya, sebelum reformasi kereta api, pernah terjadi kecelakaan di lintas utara yang mengakibatkan keterlambatan parah. Saat itu banyak penumpang kelaparan hingga mengamuk karena dibiarkan terkatung-katung berjam-jam tanpa adanya makanan.

Continue reading “KE JOGYA 16 JAM DALAM KERETA API #5 (End)”

KE JOGYA 16 JAM DALAM KERETA API #4

sebuah jurnal – Terkaget aku rupanya kereta api memutar melalui pegunungan di jalur Bandung pada bagian KE JOGYA 16 JAM DALAM KERETA API #3, rencana untuk hadiri acara wisuda semakin pupus.

Pada pukul 04:50 wib, KA Bogowonto terhenti di sinyal masuk Stasiun Bandung, tepat di bawah jembatan Pasirkaliki. Beberapa penumpang yang semula tertidur mulai terbangun dan bertanya-tanya “Ini di mana?” Tidak ada pemberitahuan sama sekali bahwa kereta akan memutar melalui Bandung. Barulah pada pukul 05:00 wib petugas memberikan pengumuman bahwa perjalanan kereta harus memutar untuk menghindari antrean panjang di lintas utara.

Continue reading “KE JOGYA 16 JAM DALAM KERETA API #4”

KE JOGYA 16 JAM DALAM KERETA API #3

sebuah jurnal – Dikarenakan kejadian yang tidak terduga, para penumpang pasrah saja. KE JOGYA 16 JAM DALAM KERETA API #2 para penumpang seperti terdampar di terminal sambil menunggu kedatangan kereta.

Terlambat parah dan memutar

Sesuai jadwal normal seharusnya setelah KA Bogowonto diberangkatkan, KA Tawang Jaya tujuan Semarang Poncol akan berangkat pada pukul 23:00 wib. Tapi, akibat banjir, penumpang KA Tawang Jaya harus menunggu hingga pukul 03:00 wib. Beruntunglah saya karena KA Bogowonto hanya terlambat 3 jam dari jadwal semula.

Continue reading “KE JOGYA 16 JAM DALAM KERETA API #3”

KE JOGYA 16 JAM DALAM KERETA API #1

sebuah jurnal – Pengalaman perjalanan 2 tahun lalu ketika menggunakan kereta api selama 16 jam yang pernah aku alami saat ingin menuju ke Jogyakarta sungguh melelahkan. Diambil saja hikmahnya, terkadang setiap kejadian diluar dugaan kita.

Dengan 16 jam bukanlah waktu yang lumrah untuk perjalanan Kereta Api (KA) Bogowonto yang wara-wiri di lintas Lempuyangan-Pasar Senen. Dalam waktu normal, perjalanan dari Jogja ke Jakarta tersebut biasa ditempuh dalam 8-9 jam saja. Tapi, Jumat (24/02) yang lalu, durasi perjalanan kereta membengkak hingga dua kali lipat karena sebuah bencana alam yang tidak terduga.

Continue reading “KE JOGYA 16 JAM DALAM KERETA API #1”

KE JOGYA 16 JAM DALAM KERETA API #2

sebuah jurnal – Keberangkatan ke Yogya tidak bisa dibatalkan meski kondisi banjir (bagian KE JOGYA 16 JAM DALAM KERETA API #1), karna sudah berjanji untuk menghadiri acara wisuda sahabat.

Pada pukul 18:00 wib, setelah pekerjaan selesai, saya segera berangkat ke Stasiun Pasar Senen. Dalam perjalanan, saya coba terus memantau perkembangan terkini di akun Twitter KAI. Hasilnya sedikit menggembirakan. Katanya, pada pukul 16:55 wib satu jalur rel di Ciledug sudah berhasil dilalui. KA pertama yang berhasil melintas adalah KA Gaya Baru Malam Selatan tujuan Surabaya Gubeng. Walau begitu, antrean panjang kereta api tetap terjadi dan penumpang diharap untuk memaklumi.

Continue reading “KE JOGYA 16 JAM DALAM KERETA API #2”

Mendaki Gunung Merapi, Kenali Fakta Uniknya #3

sebuah jurnal – Berlanjut dari Mendaki Gunung Merapi, Kenali Fakta Uniknya #2, selain banyak kasus orang yang tersesat, dikarenakan kurangnya pengetahuan topografi daerah Merapi, medannya juga berbatu.

Jalur berbatu dan berdebu

Pendakian yang unik memang dirasakan sejumlah pendaki. Pada umumnya mereka merasakan jalur yang cukup berat, karena ada medan berbatu dan berdebu. Seperti yang dilakukan pendaki asal Karanganyar, Jawa Tengah, Luckman Aziz (25). Baginya mendaki Gunung Merapi memiliki kesulitan tersendiri. Jalan berpasir dan berbatu serta debu menjadi hal yang menantang. “Setelah Merapi meletus pada 2010, trek pendakian berbatu dan berpasir. Trek ini menguras tenaga pastinya. Namun, terbayar setelah sampai puncak. Hal itu membuat para pendaki ingin kembali ke Merapi,” ucapnya.

Continue reading “Mendaki Gunung Merapi, Kenali Fakta Uniknya #3”