Tempat Paling Berkesan (Dieng, Jawa Tengah)

Jika di tanya, “Daerah mana yang paling berkesan ?” setiap pengelana pasti memiliki jawbannya masing – masing. Lantas, bagi saya sendiri, Daerah mana? Seberes konser di Yogyakarta, dan merasakan  beruntungnya berkolaborasi dengan penyanyi muda berbakat, Putri Ariani, saya tidak ikut rombongan band dan kru Kerabat Kerja kembali ke Bandung. Alih – alih pulang, saya mesti menetap di Yogyakarta selama beberapa jam, untuk menunggu rombongan lain datang. Rombongan lain ini terdiri dari Arsal, yang akan bertugas untuk memotret, Vega yang akan bertugas untuk merekam video, Lisniawati, yang akan bertugas untuk merias, dan satu orang lagi, yang akan bertugas menjadi rekan saya berpose di depan kamera.

Tujuan kami kali ini adalah dataran tinggi Dieng, dan kami akan membuat sebuah dokumentasi, yang bisasa di sebut orang – orang sebagai kegiatan Prewed (Prewedding). Setelah berekumpul, kami langsung melakukan perjalanan ke Wonosobo. Di Wonosobo, istirahat sebentar untuk isi perut sembari berbincang perihal konsep prewed. Setelahnya, kami melanjutkan perjalanan menuju Dieng.

Syahdan, dari semua tempat di negeri ini, kenapa kami memilih Dieng? Alasannya, karena bagi saya dan rekan saya, bukit Sikunir, yang terletak di Dieng, merupakan tempat yang cukup bersejarah. Kami jadian di sana beberapa tahun lalu. Atas nama nostalgia, kami kembali ke Dieng. Sesampainya di Dieng, saya langsung mengurus penginapan. Beruntungnya, kami mendapat tempat di tengah desa, dengan harga yang terbilang murah. Jadi kami mudah bergerak kesana – kemari.

Bagi kawan kawan yang belum tahu, Dieng ini merupakan kawasan yang berisi berbagai tempat wisata, dari mulai gunung, telaga, air mancur, hingga candi. Jadi, sebagai pengunjung, kami memiliki banyak opsi. Ini juga yang membuat Dieng unik. Oh ya, perihal harga ini itu menjadi hal yang penting, karena untuk perjalanan kali ini, saya memakai jasa Arsal, Vega dan Lisniawati. Ini membuat segala biaya, termasuk transportasi, makan serta penginapan, menjadi tanggung jawab saya. Ternyata, prewed di outdoor mahal juga. Kebayang kalau pakai jasa tim professional yang benar – benar tidak saya kenal. Pasti bikin kepala nyut – nyutan. Ya, sudahlah namanya juga sayang. Lah, kok jadi curhat?

Di hari pertama, kami langsung menyewa sepeda motor dan survey tempat. Liburan sekolah membuat beberapa situs, ramai oleh pengunjung. Saya pikir, ini tentu akan merepotkan proses dokumentasi. Untung saja Mas Kelik, sang pemilik penginapan, merekomendasikan tempat yang belum pernah kami kunjungi sebelumnya, padang sabana di Lembah Semurup, kaki Gunung Pangonan.

Maka atas dasar penasaran, seberes  mengecek situasi lokasi Sikunir, Batu Pandang, dan Telaga Warna, kami pun melesat kearah padang sabana yang di maksud oleh pak Kelik. Tak disangka, ternyata perjalanan menuju sabana tersebut cukup menanjak. Tapi setelah beberapa puluh menit mendaki, pemandangan di hadapan kami membuat segala lelah hilang. Sabana indah terhampar di depan sana. Berjuta konsep langsung tergambar di benak Arsal dan Vega selaku eksekutor. Berhubung hari sudah hampir gelap, kami memutuskan untuk pulang ke losmen dan mulai melakukan proses dokumentasi esok hari.

Pagi – pagi buta, kami kembali melesat dengan sepeda motor. Dinginnya Dieng tak membuat kami kendor. Tujuan kami pagi ini adalah puncak bukit Sikunir dan sunrisenya yang legendaries itu. Dalam proses dokumentasi pun, Sikunir merupakan tempat wajib. Karena, sekali lagi, tempat inilah yang menjadi tonggak sejarah bagi saya dan rekan saya. Kami menjadi was – was setelah menyadari bahwa sepanjang jalan banyak sekali pengunjung, yang rata – rata merupakan anak sekolah. Pikir saya, apakah kami akan mendapatkan spot untuk take Video dan Foto? Takutnya malah harus berebutan.

Baca Juga : Tuntutan (Gunung Slamet, Jawa Tengah)

Tapi seolah dewi fortuna sedang berpihak pada kami, di jalur pendakian, anak – anak sekolah ini di imbau oleh sang guru untuk berhenti berjalan dan menunggu rombongan lainnya yang tertinggal di bawah. Ini membuat saya dan kawan – kawan saya, bisa mencuri start. Kami melenggang ke ujung bukit dan menikmati landscape yang sangat cantik. Tatkala mentari terbit dari ujung timur, pengambilan gambar pun terjadi. Setelahnya, kami melangkah turun dari Sikunir dengan perasaan lega. Setidaknya, PR yang paling berat sudah di tuntaskan.

Siangnya, kami melanjutkan proses dokumentasi di Bukit Batu Pandang, kemudian Telaga Warna. Sebetulnya rencana kami, beres dari Telaga Warna, ingin melanjutkan ke padang sabana. Tapi, karena langit kian mendung, kami pun memutuskan untuk lanjut esok pagi saja.

Esoknya, tatkala matahari baru mengintip, kami sudah segar dan siap sedia menuju padang sabana. Saya baru sadar, meski banyak hal berubah dari Dieng, tapi kabutnya tetap memiliki pesona mistis tersendiri. Di jalur pendakian menuju sabana, pengambilan gambar pun terjadi. Ini tentu saja untuk menggantikan video pendakian yang gagal di lakukan di Sikunir terkait ramainya jalur.

Setibanya di padang sabana, kami pun langsung mendokumentasikan ini itu. Karena saya dan rekan tidak terbiasa berpose berdua, sering kali kami canggung dan merepotkan Vega dan Arsal yang mesti mengulangi prosesi. Aduh, untung saja mereka sabar. Ketika hendak menerbangkan drone, Arsal berniat melakukan atraksi menembus tenda lalu menghampiri kami. Dasar sial, drone menabrak lengan saya dan langsung terjatuh. Haduh, untung saja saya sabar.

Esoknya, kami bersiap meninggalkan Dieng. Tapi, sebelum pulang, kami menyempatkan diri mengunjungi Tuk Bima Lukar. Konon, jika mencuci muka disini, kita akan awet muda. Ya, semoga saja betul. Agar saya tidak terlihat terlalu seperti om – om. Selepas itu, kami beranjak pulang. Bagi saya sendiri, ini merupakan kali ketiga berkunjung ke Dieng.

Yang pertama, saya datang ketika sedang patah hati. Waktu itu Dieng masih teramat sepi. Pembanunan pun belum sepesat sekarang. Yang kedua, saya datang menjelang Dieng Culture Festival, mendaki Sikunir, lalu menyaksikan festival lampion. Yang ke tiga, saya datang dengan niatan membuat Video dan Foto, sekaligus reka ulang. Ya, dokumentasi. Tiga kali mendatangi Dieng, dengan kesan yang berbeda. Makanya, jika ada yang bertanya pada saya, “Selama berkelana, daerah mana yang paling berkesan?” saya tidak pernah punya jawabannya.

Karena, setiap tempat memiliki kesannya masing – masing. Kita bisa ketempat yang sama, di waktu yang sama, tapi bagi saya tempat tersebut bisa sangat berkesan, sementara bagimu tidak. Atau sebaliknya. Bahkan, jika kita berulang kali mendatangi tempat yang sama, contohnya Dieng, kesannya bisa bertambah atau berkurang. Ini membuat saya sadar, bahwa sebenarnya, sebuah tempat hanya menjadi berkesan jika hati memaknai tempat tersebut. Oh ya, selain mendapatkan kesan baik, semoga, ke mana pun kita melangkan, senantiasa memberi kesan baik kepada orang – orang sekitar.